PENINGKATAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA MELALUI PERBAIKAN TATA KELOLA HUTAN RAKYAT BERKELANJUTAN YANG BERKONTRIBUSI PADA PENYERAPAN GAS RUMAH KACA DI KABUPATEN LUWU TIMUR

Program ini diberi nama “BERDAYA HIJAU”, diusulkan oleh asosiasi Kelompok Tani Hutan di Kabupaten Luwu Timur. Program ini difasilitasi oleh 3 Organisasi Non Pemerintah (NGO) dan 3 Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR). Pimpinan Konsorsium adalah Sulawesi Community Foundation (SCF) dan yang lainnya adalah LSM lokal, yaitu Nusa Celebes Centre (NCC) dan Generasi Muda Pencinta Alam (GENPAWA) Luwu Timur. SCF bersama-sama dengan anggota konsorsium telah bekerja untuk memfasilitasi pengembangan hutan rakyat di Kabupaten Luwu Timur sejak 2013, dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. Bentang Alam Program (BAP) dan Bentang Alam Investigasi (BAI) program ditentukan oleh Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRW) Kabupaten Luwu Timur. Wilayah BAP telah menunjukkan penurunan yang signifikan dari tutupan lahan dalam 10 tahun terakhir. BAI terletak di luar negara hutan (APL). tutupan lahan di BAI dibentuk oleh lahan terbuka, semak dan perkebunan. APL saat ini didominasi oleh praktek-praktek seperti: sawah, tambak, dan hortikultura. Praktek-praktek seperti menggunakan pupuk kimia dan pestisida sebesar 485 649 ton/tahun. Praktik-praktik ini memberikan kontribusi pada peningkatan gas rumah kaca.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui peningkatan tata kelola hutan rakyat lestari yang berkontribusi terhadap penyerapan gas rumah kaca di Kabupaten Luwu Timur. Program memilih target peningkatan 40% dalam pendapatan petani dari praktek pengelolaan hutan rakyat dan penyerapan Gas Rumah Kaca (GRK) dengan perkiraan 25.962 ton CO2 eq. di tahun ke-6. Program ini dapat dicapai dengan tiga pendekatan utama, yaitu:

  1. Meningkatkan keterampilan petani termasuk kelompok rentan dalam mengelola hutan rakyat melalui sertifikasi Standar Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK).
  2. Menambahkan luas hutan rakyat sebanyak 5000 Ha yang dikelola secara lestari.
  3. Peningkatan nilai produk kayu legal melalui pengembangan Unit Manajemen Hutan Rakyat (UMHR).

Tujuan dan proses pendekatan utama dari program ini secara langsung akan memberikan kontribusi pada tujuan akhir GP MCAI dalam bentuk:

  1. Pendapatan meningkat hingga 40% pada akhir program.
  2. 962 Ton penyerapan CO2 eq GRK di tahun ke-6.
  3. ERR 21,05% pada tahun ke-20.

Total penerima manfaat program adalah 1.617 orang yang tersebar di 60 desa. Luas kawasan hutan rakyat adalah 5.000 hektar yang tersebar di 7 kecamatan. Kecamatan ini terdiri dari Wotu, Burau, Mangkutana, Tomoni, Kalaena, Angkona dan Tomoni Timur. 1.617 penerima manfaat yang terdiri dari kelompok hutan rakyat (1050 laki-laki, 450 perempuan), 70 wanita (anggota kelompok pembibitan), dan 47 orang di unit pengolahan kayu lokal (33 laki-laki, 14 perempuan).

Informasi latar belakang untuk landscape program

Lokasi Bentang Alam Pembangunan (BAP) program ini merupakan batas administrasi Kabupaten Luwu Timur dengan yang letak geografisnya berada diantara 2o03’00” – 3o03’25” LS dan 119o28’56” – 121o47’27” BT  (Gambar 1). Kabupaten Luwu Timur sendiri merupkan  salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Letak Kabupaten Luwu Timur kurang lebih 565 km ke arah Timur Laut dari Makassar. Luas wilayah Luwu Timur adalah 6.944,88 km2, atau sekitar 11,14% dari luas Provinsi Sulawesi Selatan yang terdiri dari 24 kabupaten/kota.

Sedangkan Bentang Alam Investasi (BAI) Program secara geografis terletak pada 2o22’0” – 2 o38’0” LS dan 120o38’0” – 120o55’0’ BT (Gambar 1).  Secara administrasi BAI program beririsan pada 7 kecamatan dan 60 Desa, untuk masing-masing kecamatan yang beririsan yaitu Kecamatan Wotu, Kecamatan Burau, Kecamatan Kalaena, Kecamatan Mangkutana, Kecamatan Tomoni, Kecamatan Tomoni Timur dan Kecamatan Angkona. Masing-masing wilayah intervensi program pada tiap kecamatan hanya berada pada Areal Penggunaan Lain, hal tersebut sesuai dengan kebijakan pemerintah terkait Hutan Rakyat. Seperti yang diketahui bahwa Areal Penggunaan Lain (APL) adalah lahan diluar kawasan hutan, yang terdiri dari lahan bebas (milik pemerintah) dan lahan milik. Khusus pada program ini, lokasi program berada pada APL pada lahan milik yang memiliki basis legal kepemilikikan. Dari hasil analisa kesesuian lahan (spasial dan survey) terhadap pengembangan hutan rakyat didapatkan potensi lahan hutan rakyat yang dapat dikembangkan sebesar 9.881 ha. Untuk itu target Bentang Alam Investasi (BAI) untuk intervensi program ini pada lahan hutan rakyat seluas kurang lebih 5.000 ha di 7 kecamatan kabupaten Luwu Timur.

Komen disini