Kegiatan pewujudan desa inklusi sosial bagi masyarakat to Bentong Desa Bulo-Bulo dan masyarakat terisolir di Desa Kahaya merupakan bagian dari phase III program Peduli. Program Peduli adalah kolaborasi antara pemerintah dan beberapa organisasi masyarakat sipil yang tergabung sebagai mitra. Sulawesi Community Foundation (SCF) adalah salah satu di antara sejumlah mitra dan terlibat mulai dari Phase I sampai Phase III. Program Peduli bertujuan untuk mendorong gerakan inklusi sosial. Gerakan ini diharapkan mampu mengurangi tingkat kemiskinan di Indonesia.

SCF membingkai program ini dalam program Sipakatau-Sipakalebbi. Dalam frasa bahasa bugis, istilah tersebut memiliki makna filosif yang sangat dalam. Sipakatau berarti memanusiakan manusia, sedangkan sipakalebbi berarti saling menghargai, memuji, mengasihi dan membantu. Sipakatau – Sipakalebbi diindentikan dengan sifat yang tidak saling membeda-bedakan dan lebih dekat kepada sifat untuk memandang manusia seperti manusia.

Desa inklusi merupakan sebuah gagasan untuk membebaskan desa dari eksklusifitas yang menghambat pertumbuhan desa. Eksklusifitas yang menjadi sorotan utama adalah isu kebijakan, ekonomi, dan sosial. Kedua isu tersebut saling terkait dan menjadi pemicu tumbuhnya kesejahteraan masyarakat di desa penerima program.

Eksklusi kebijakan yang dimaksud adalah terkait pemanfaatan sumberdaya alam di Kawasan hutan. Masyarakat di desa penerima program diharapkan dapat memiliki akses pengelolaan sumberdaya alam secara legal melalui skema Hutan Kemasyarakatan. Peran pemerintah juga menjadi kunci sebagai pemberi kebijakan dan intervensi pengelolaan. Pemerintah dan masyarakat seharusnya dapat bersinergi dalam pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan.

Ekslusi ekonomi yang dimaksud adalah akses pemasaran produk sumberdaya alam yang dikelola oleh masyarakat. Di Desa Kahayya, masyarakat mengembangkan komoditi kopi yang memiliki daya saing di pasar kopi nasional. Begitu juga dengan potensi wisata yang ada di desa Kahayya sangat menjanjikan.

Eksklusi Sosial merupakan issu tersendiri yang dihadapi di Desa Bulo-bulo. Issu tersebut adalah adanya komunitas masyarakat terisolir yang dinamakan To Balo (kulit belang) dang To Garibo (rambut keriting). Eksklusi sosial yang dihadapi oleh kedua komunitas ini berimbas pada berbagai pelayanan pemerintah seperti layanan kesehatan dan Pendidikan yang kemudian secara efek domino menghambat perkembangan kualitas hidup masyarakatnya.

Tujuan Kegiatan

Goal dari program ini adalah Mewujudkan Desa Inklusi Sosial bagi masyarakat To Bentong Desa Bulo-Bulo dan masyarakat terisolir di Desa Kahaya. Pilar yang diangkat dalam program peduli yaitu Masyarakat adat Terpencil/terisolir dalam mengakses sumberdaya alam. Untuk mencapai goal program peduli terdapat tiga point output yang ingin dicapai dalam program ini, yaitu:
(1) Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam membangun sumberdaya alam secara partisipatif dengan pemerintah desa,
(2) Meningkatnya Kualitas bantuan sosial dan layanan publik untuk masyarakat sekitar hutan,
(3) Terciptanya kepastian kebijakan inklusi dalam mendorong desa wisata berbasis inklusif.

Capaian Kegiatan

Bidang Kesehatan

Hingga saat ini capaian di bidang kesehatan, terdapat 8 orang kader pendidikan dan kesehatan yang hingga saat ini terus melakukan pendampingan hingga level dusun.Berdampaknya hingga saat ini, setiap harinya 20-30 orang setiap hari pasar datang berobat ke pustu, yang dahulunya layanan kesehatan ini tidak berjalan. Kader ini juga akan mendapatkan motor kendaraan operasional oleh Dinas Kesehatan di tahun 2016. Sektor Pendidikan saat ini telah terbentuk 2 kelompok belajar di dua dusun yang tertinggal, dan 1 kelompok paket C yang dibuka oleh dinas Pendidikan Agustus 2016. Serta MoU Pemerintah Desa dan Dinas Kesehatan dan Pendidikan untuk peningkatan kualitas layanan dilevel desa. Hingga pada PERDES tentang penguatan layanan dasar (pendidikan dan kesehatan) yang juga akan dibebankan ke APDes.

Bidang Sosial

masing-masing 1 kelompok tani marica dan kelompok pembuat gula merah, yang mana suku tobalo dan suku togaribo terintegrasi langsung didalamnya menjadi anggota dan pengurus. Terbentuk juga 1 kelompok seni To Bentong “Gambus” yang anggotanya merupaka to balo dan garibo. Hingga saat ini kelompok seni tersebut mengajarkan masyarakat desa setiap bulannya untuk bermain musik. Dari keseluruhan program tingkat keberterimaan tobalo dan togaribo sangat baik dan sangat terasa jika dibanding sebelum program ini masuk.

Bidang Kebijakan dan Partisipasi Pembangunan

Capaian di peningkatan partisipasi masyarakat, telah terbentuk 4 kelompok tani Hutan Kemasyarakatan (HKM), yang mana kelompok ini yang saat ini menjadi motor penggerak masyarakat dilevel desa khususnya dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Saat ini hampir tidak ditemukan lagi gap masyarakat dengan pemerintah daerah terkait pengelolaan hutan. Pelatihan pasca panen kopi yang telah dilaksanakan oleh program kemudian dilanjutkan oleh program Dinas Kehutanan dan Perkebunan untuk studi banding kopi.

Capaian dilevel Kebijakan daerah sendiri, pemerintah telah mengeluarkan izin pengelolaan hutan HKM pada 4 kelompok HKM di Desa Kahayya, sebagaimana diketahui untuk menerbitkan izin memerlukan waktu yang cukup lama dan izin ini menjadi hak akses legal oleh masyarakat untuk mengelolaa hutan secara berkelanjutan.

Selanjutnya Penandatangan MoU dan Penyusunan Road Map Pengelolaan SDABerkelanjutan sebagai tindak lanjut PROGRAM PEDULI dan strategi keberlanjutan program. Pemerintah daerah berkomitmen hingga 2021 akan mendorong Kahayya sebagai lokasi pengembangan ekowista terintegrasi yang berbasis inklusif. Serta mendorong 2 daerah lain yang terkena dampak hingga ke hilir dalam perencanaan pengelolaan SDA Berkelanjutan.

Komen disini