INTERNALISASI KEBIJAKAN DAN PENGUATAN KAPASITAS PARAH PIHAK (DESA, KELOMPOK HKM, PEMDA DAN KPH)

Program perlindungan tapak bertajuk “Pengelolaan dan Perlindungan KBA KARAENG-LOMPOBATTANG melalui Internalisasi kebijakan dan penguatan kapasitas Parah Pihak (Desa, HKM, Pemda dan KPH)” berlokasi di Desa Kahayya, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Program ini dilaksanakan oleh Sulawesi Community Foundation (SCF) atas kerja sama dengan Burung Indonesia dan dukungan pendanaan kemitraan untuk perlindungan wilayah kritis di kawasan penting, atau dikenal dengan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF).

Program ini berfokus pada pengelolaan dan perlindungan hutan kemasyarakatan yang dikelola oleh kelompok tani hutan agar dapat memberikan layanan ekosistem dan memberikan kontribusi ekonomi pada petani dengan melibatkan stakeholder multi pihak, dari pemerintah tingkat desa, Kabupaten, dan pihak KPH sebagai pengelola hutan di tingkat tapak.

Hal mendasar yang dilakukan adalah dengan melakukan pendataan pada kelompok tani hutan dengan menggali informasi terkait pemanfaatan lahan berdasarkan komoditi yang mereka kembangkan. Saat ini kelompok tani hutan dan petani lainnya di Desa Kahayya mengembangkan komoditi kopi sebagai tanaman utama. Sebagai desa yang posisinya berada di dataran tertinggi Kabupaten Bulukumba sekitar 1.200 Mdpl, Desa Kahayya merupakan desa yang memberikan layanan ekosistem utamanya sumber air baku untuk Kabupaten Bulukumba secara umum.

Melalui tanaman kopi, masyarakat Desa Kahayya utamanya kelompok tani hutan yang telah memperoleh izin pengelolaan Hkm (hutan kemasyarakatan) secara tidak langsung akan menanam beragam jenis tanaman tegakan sebagai pohon pelindung untuk kopi. Sehingga fasilitasi penyediaan rumah bibit kopi menjadi aktivitas penting dalam mendorong masyarakat Desa Kahayya dalam memberi kontribusi untuk pengelolaan dan perlindungan tapak di sekitar wilayah pegunungan Lompobattang.

Di awal proyek, tim program melakukan sosialisasi proyek kepada para stakeholder di tingkat kabupaten, desa dan KPH, dan kelompok tani tentunya, untuk meraih dukungan program sehingga dapat terjalin kerja sama yang aktif antara multi pihak. Dengan demikian fasilitasi yang akan dikerjakan kemudian dapat dengan mudah bersinergi dengan pengampu kebijakan di level desa, Kabupaten, dan KPH.

Bagi pihak pemerintah desa, program pengelolaan dan perlindungan tapak merupakan program yang berkesesuaian dengan arah kebijakan desa untuk memberikan layanan ekosistem yang baik bagi wilayah sekitarnya dan Bulukumba secara umum. Baik melalui pendekatan ekowisata maupun produk hasil hutan alam seperti Kopi dan Madu.

Pada tingkat Kabupaten, pengelolaan dan perlindungan tapak juga bersinergi dengan Roadmap pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan di mana Desa Kahayya juga merupakan wilayah intervensi untuk daerah hulu.

Sementara bagi pihak KPH, sebagai kesatuan pengelolaan hutan di tingkat tapak merupakan lembaga yang baru terbentuk setelah dimekarkan dari KPH Jeneberang model yang meliputi 7 kabupaten. Sehingga sinergitas program menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan secara bersama-sama dalam mendorong pengelolaan dan perlindungan kawasan yang lebih baik.

Secara umum visi utama dari proyek ini adalah mendorong masyarakat dalam upaya pengelolaan dan perlindungan kawasan Karaeng-Lompobattang, dan Desa Kahayya secara khusus, yang didukung oleh kebijakan dari level desa, Kabupaten, hingga KPH, utamanya melalu peningkatan pengelolaan tanaman Kopi dan pengelolaan ekowisata.

Dengan demikian selain menjaga kelestarian lingkungan, kontribusi ekonomi bagi masyarakat sekitar juga dapat dinikmati. Sehingga program ini juga memberikan peluang untuk mengampanyekan produk kopi Kahayya sebagai kopi perhutanan sosial yang merupakan salah satu praktik baik dalam mengelola hutan.

Objective

Objektif program ini adalah rencana kerja umum dan rencana kerja tahunan (RKU-RKT) 4 kelompok HKM Desa Kahayya terintegrasi dalam kebijakan pembangunan desa, serta bersinergi dengan RPHJPd KPH Jeneberang II 2019, dan Road map PSDA berkelanjutan yang ditetapkan oleh Pemda Bulukumba periode 2016 – 2021.

Dengan demikian, untuk mencapai objektif tersebut maka indikator yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:

1. Minimal 80 % isi RKU-RKT di 4 kelompok menetapkan skema perlindungan terhadap GTS di Desa Kahayya yang mendukung perlindungan GTS di KBA Karaeng-Lompobattang
2. Minimal 60% dukungan RKU-RKT terintegrasi dalam kebijakan pembangunan desa dan para pihak yang mendukung perlindungan tapak di areal Hkm Desa Kahayya
3. Minimal 40% warga Desa Kahayya mengalami peningkatan penghidupan dari pengelolaan agroforestri
4. Minimal 20% skema ekowisata dirumuskan dan disepakati di tingkat desa diadopsi oleh pemerintah Kabupaten.

Capaian-capaian dari implementasi program

1. Pembangunan rumah bibit kopi
20 ribu bibit kopi dibagi menjadi 5 ribu untuk setiap kelompok, 1 kelompok yang terbagi menjadi 2 kubu akhirnya bersepakat untuk mendapatkan masing-masing 2.500 bibit. Proses pembibitan melibatkan tenaga ahli pendamping dari Universitas Hasanuddin jurusan pertanian, untuk memberikan loka latih teknik pembibitan kopi dan bagaimana memberikan perawatan yang tepat guna untuk tanaman kopi.

Melalui rumah bibit ini, diharapkan petani kopi khususnya kelompok tani hutan dapat melakukan peremajaan untuk tanaman kopi yang sudah tua, dan meminimalisir dalam memasukkan jenis tanaman yang sifatnya tidak memberikan daya dukung terhadap kelestarian lingkungan seperti misalnya tanaman cengkeh yang saat ini menjadi salah satu ancaman.

2. Terbentuknya kelompok sadar wisata
Kelompok sadar wisata merupakan kelompok yang digagas dan terbentuk atas kesadaran kelompok pemuda dalam membangun desa melalui pengelolaan wisata alam yang ada di Desa Kahayya sebagai upaya atas mendorong lingkungan yang lebih baik. Potensi wisata alam seperti Air terjun Gammacaya, Danau Lurraya, Puncak Donggia dan Tabbuakang, Kebun kopi , air panas,sungai dan wisata research untuk potensi flora dan fauna cukup melimpah. Potensi yang dimiliki Desa Kahayya harus dimanfaatkan sebagai atraksi wisata yang dikelola secara professional menjadi desa wisata yang bernilai ekonomi bagi masyarakat desa sendiri.

3. Rencana kerja umum dan rencana kerja tahunan
Secara umum rencana 4 kelompok tersebut adalah tetap berpegang teguh pada tanaman kopi sebagai komoditas utama. Hal yang menyita banyak perhatian adalah mengenai jenis tanaman jangka pendek yang akan dikembangkan di bawah tanaman kopi. Umumnya, kelompok merencanakan budidaya tanaman porang dan pilihan lainnya seperti Bawang putih, Cabai, dan Jahe.

Komen disini