Studi ini adalah pengembangan agroforestry berbasis masyarakat yang dilaksanakan di Kabupaten Luwu. Studi ini terlaksana atas kerjasama antara RECOFTC Indonesia dengan Sulawesi Community Foundation (SCF). Studi ini merupakan pengembangan dari Policy Brief yang pernah dihasilkan oleh SCF pada tahun 2016 di Sulawesi Selatan. Dari hasil studi tersebut menjelaskan bahwa terdapat kurang lebih 1028 desa di Sulawesi selatan yang berada di Kawasan hutan. Sedangkan jumlah penduduk miskin berkisar 864.510 jiwa atau 10,12 % dari total penduduk dari total jumlah penduduk di Sulawesi Selatan.

Porsi penduduk miskin sebagian besar terkonsentrasi di desa-desa utamanya desa daratan tinggi di sekitar Kawasan hutan. Kondisi demikian menimbulkan pertanyaan, sejauh mana eksistensi hutan mampu membawa kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada kawasan hutan. Beragam narasi solutif pembangunan kawasan hutan di Indonesia, diantaranya pelibatan masyarakat desa setempat dengan pola agroforestry. Ini menjadi pilihan yang paling banyak diperbincangkan dan diharapkan mampu membawa kesejahteraan masyarakat didalam dan sekitar kawasan hutan. Namun gagasan ini perlu kajian kontekstual sehingga menemukan bentuk implementasi yang tepat.

Latimojong merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Luwu yang keseluruhan desa berada di dalam atau sekitar kawasan hutan lindung. Dari 11 desa terdapat 8 desa yang memiliki luas kawasan hutan bahkan melebihi luas wilayah administrasi desanya, diantaranya Desa Tibussan, Lambanan, Kadundung, Pajang, Buntu Sarek, Boneposi, Ulusalu dan Tolajuk. Selain itu, desa-desa tersebut terikat secara fungsi sebagai daerah Hulu DAS atau catchmen area. Aktivitas pada daerah tersebut tentunya akan sangat berdampak pada daerah dibawahnya.

Pembangunan di desa-desa tersebut sebaiknya dilakukan secara terpadu dengan mempertimbangkan kesamaan bentang alam dan sosial budaya. Dari sebelas desa tersebut, terdapat masyarakat yang telah memiliki akses legal Perhutanan Sosial pada 3 desa, yakni Desa Tibussan (Hutan Desa), Lambanan (Hutan Desa) dan Pajang (Hutan Kemasyarakatan) dan yang menjadi daerah studi adalah desa Pajang dan Desa Lambanan.

Tujuan pelaksanaan studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi dan menganalisis alternaitf Model/Design Pengelolaan Agroforestry berbasis masyarakat
  2. Melakukan penilaian terhadap Model/Design Pengelolaan Agroforestry berbasis masyarakat menggunakan ASEAN Guidelines for Agroforestry Development. Adapun indicator studi antara lain Institutional Principles, Economic principles, Environmental principles, Socio-cultural principles, Communication and scaling principles.

Komen disini