info@scf.or.id

Arsip

Mengelola dan Melindungi Sumberdaya Alam dengan Kekayaan Local Knowledge: Review Film Semes7a

Undangan Menonton Film Semes7a yang diperoleh SCF

Undangan Menonton Film Semes7a yang diperoleh SCF

Tim Sulawesi Community berkesempatan untuk memenuhi undangan untuk nonton bareng film dokumenter “Semes7a”. Kegiatan tersebut merupakan inisiatif dari Balai Perubahan Iklim Region Sulawesi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Cinemaxx Nipah Mall Makassar, Selasa 25 Februari 2020.

Film dokumenter dengan judul Semes7a mengangkat tema lingkungan dengan pendekatan pengetahuan local (local knowledge). Film yang disutradarai oleh Chairun Nisa ini memang berhasil dinobatkan sebagai nominator pada Festival Film Indonesia (FFI) 2019 dalam kategori film dokumenter panjang terbaik. Nicholas Saputra, aktor kawakan Indonesia sebagai produser film panjang dokumenter ini dengan berkolaborasi bersama Mandy Marahimin dan diproduksi oleh Tanakhir Films.

Film ini membuka pandangan kita tentang pentingnya menjaga sumberdaya alam dan semuanya dapat dimulai dari pengetahuan yang kita miliki. Kekayaan informasi pun dapat kita peroleh karena yang didokumentasikan adalah tokoh masyarakat dari tujuh daerah di Indonesia yang merepresentasikan agama dan kepercayaan di Tanah Air yang bekerja sama dalam menjaga lingkungan. Tujuh tokoh dalam film itu dibuat terpisah-pisah dan disusun menggunakan pendekatan agama sebagai pengikatnya.

Dari ke tujuh tokoh yang diceritakan, terdapat tujuh cerita yang berbeda dari masing-masing daerah namun masih memiliki benang merah yaitu bagaimana masyarakat bersikap terhadap dampak perubahan iklim serta perilaku tidak ramah lingkungan yang berefek pada perubahan iklim. Berikut ini adalah beberapa pelajaran yang dipetik dari film Semes7a.

Agama yang Mengikat

Film ini menjelaskan bahwa adat istiadat yang menjadi pengikat dalam norma dan perilaku. Di zaman modern ini adat dirasa sangat tidak relevan untuk diterapkan. Akan tetapi kalau kita berbicara tentang keseimbangan alam, aturan adat dan keseimbangan alam merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa di pisahkan. Dapat terlihat dari bagaimana umat hindu di Bali yang menjadikan momentum hari raya nyepi untuk mengistirahatkan diri dan alam semesta. Hasilnya, dengan momentum tersebut pulau bali telah mereduksi 30.000 ton gas karbon bebas di udara, begitu juga dengan bahan bakar minyak dan listrik yang jumlahnya sangat besar.

Tidak hanya di Bali, di Kalimantan juga yang dengan aturan adatnya, masyarakat Desa Sungai Utik, Kalimantan Barat berhasil menekan laju deforestasi melalui tata cara adat dalam melindungi dan melestarikan hutan.

Sumber Energi Berkelanjutan

Penggunaan energi fosil yang sangat masif memberikan kontribusi terhadap percepatan pemanasan global. Dengan kesadaran ekologi dan pembangunan partisipatif yang dilakukan masyarakat untuk membangun pembangkit listrik mikro hidro. Dalam membangun pembangkit listrik mikro hidro tersebut, polusi udara yang dihasilkan dari genset di Desa Bae Muring, Manggarai, Nusa Tenggara Timur dapat diminimalisir. Kegiatan tersebut dapat menjadi inspirasi dalam mengurangi penggunaan energi fosil dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di lingkungan sekitar kita.

Pemberdayaan Perempuan & Community Development

Peran kelompok perempuan gereja di Distrik Kapatcol, Papua yang menginisiasikan aturan sasi di wilayah laut sungguh sangat memberikan dampak ekologis di wilayah laut. Dengan penerapan aturan sasi di wilayah tersebut, berhasil menekan laju eksploitasi sumberdaya laut di wilayah tersebut. Eksploitasi seperti itu tidak hanya di Kapatcol saja, melainkan di hampir seluruh wilayah indonesia terdapat oknum yang melakukan eksploitasi dan penggunaan alat-alat ilegal yang berdepak pada kerusakan keragaman hayati di laut. Almina Kacili dan kelompok wanita gereja setempat memberikan contoh kepada kita semua bahwa status gender bukanlah sebuah masalah. Memberikan kontribusi dalam melindungi keseimbangan alam dan lingkungannya adalah yang paling utama.

Berdamai dengan alam

Kerusakan yang ada di laut dan daratan merupakan ulah dari manusia. pembukaan lahan pertanian dan ilegaloging menjadi faktor utama penyebab konflik antara warga dan gajah liar. Merupakan sebuah kisah pelik yang memberi gambaran kita bahwa kerusakan lingkungan yang di lakukan manusia akan kembali kepada manusia itu sendiri. Maka dari itu kita sebagai pemimpin di muka bumi harus berdamai dengan alam dengan mengembalikan alam sesuai dengan fungsinya.

Salah satu cara berdamai dengan alam adalah dengan menerapkan praktik Thayyib tutur Iskandar Waworuntu, seorang figur yang bertahun-tahun lalu memutuskan hijrah dan mendalami Islam dan sunnah Rasulullah SAW. dengan menerapkan ilmu permaculture di lingkungan tempat tinggalnya berdasarkan asas Thayyib. Mengajarkan kita untuk bagaimana berdamai dengan alam.

Figur lain yang meng inspirasi untuk berdamai dengan alam bagi yang tinggal di perkotaan adalah sosok Soraya Cassandra, Petani kota yang mendirikan Kebun Kumala di Jakarta. Dengan menawarkan solusi untuk berdamai dengan alam untuk masyarkat perkotaan. Beliau melakukan kampanye prinsip-prinsip belajar dari alam yang secara kreatif mengubah tanah dari kota menjadi hijau kembali.

Film dokumenter ini mencoba memberi gambaran kepada kita mengenai praktik-praktik ringan yang kira semua bisa lakukan dalam keseharian. Kita semua jangan jadi penonton dalam menyikapi perubahan iklim yang dewasa ini sudah sedemikan mengkhawatirkan. Kita bisa memilih mempraktekkan bagian mana yang paling bisa kita lakukan di keseharian kita. Kreatif menjadi pendekatan yang sangat diperlukan dalam menyikapi perubahan iklim, dan agama adalah pelindung nilai dan semangat melakoni.

=====
Penulis: Ikrar Ardiansyah
Editor: Ihsan Arham

Komen disini

Open Chat
1
Close chat
Hi! Terima kasih atas kerjasama anda. Silahkan tekan tombol start jika ingin ngobrol dengan kami :)

Start