Bagaimana membangun agen perubahan sosial yang tidak hanya mendorong kesetaraan dan inklusi di tingkat komunitas tetapi juga peka terhadap isu perubahan iklim?
Pada 21–23 April 2026, Villa Arky di Desa Bontomanurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros menjadi ruang belajar bersama dalam Pelatihan Peningkatan Kesadaran Agen Perubahan Sosial tentang GEDSI dan Perubahan Iklim. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Tim Program Estungkara ini mempertemukan kader dari Desa Bontomanurung dan Desa Bonto Somba (Kabupaten Maros), serta Desa Kaluppini (Kabupaten Enrekang). Turut terlibat pula mahasiswa magang dari Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Universitas Hasanuddin (UNHAS), yang bersama-sama membangun proses belajar yang menggabungkan pertukaran pengalaman lintas wilayah, refleksi sosial, dan pemahaman terhadap isu lingkungan.
Hari pertama, fasilitator Ma’ruf Nurhalis bersama Imran, Sahrul, dan tim pendamping membangun kesepakatan bersama melalui Code of Conduct yang menekankan tiga prinsip utama: aman, inklusif, dan seru. Prinsip ini menjadi landasan agar setiap peserta—tanpa memandang latar belakang—memiliki ruang yang setara untuk berbicara dan didengarkan. Suasana ini langsung terasa dalam sesi perkenalan interaktif. Setiap peserta memperkenalkan diri melalui gambar benda favorit mereka. Pilihan yang beragam—mulai dari handphone, buku, hingga pohon—tidak hanya mencairkan suasana, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memahami kehidupan, minat, dan cara pandang masing-masing peserta.


Ice breaking jadi metode yang digunakan untuk menumbuhkan suasana menyenangkan selama kegiatan berlangsung
Ma’ruf Nurhalis kemudian membagi peserta ke dalam tiga kelompok—Durian, Alpukat, dan Kopi. Pemilihan nama-nama ini bukan sekadar simbolik, tetapi sebagai cara mendekatkan isu perubahan iklim melalui tanaman yang relatif adaptif terhadap kondisi iklim, sehingga lebih mudah dipahami dalam konteks keseharian peserta.
Dalam diskusi awal, Ma’ruf Nurhalis mengajukan pertanyaan, “Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar istilah agen perubahan sosial?” Isra menyampaikan, “Agen Perubahan sosial itu mengarah pada kelompok yang memberi dampak kepada masyarakat banyak.” Adapun Inna menyampaikan bahwa agen perubahan merupakan orang yang dapat membawa perubahan kepada komunitas. Inna menceritakan bagaimana keberadaan kelompok pengepul cabai yang mereka inisiasi dapat mendorong perubahan ekonomi di desa. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perubahan sering kali berangkat dari inisiatif kecil yang berdampak luas di tingkat komunitas.
Pada malam hari, Pukul 19.30, dilakukan pemutaran film animasi The Impossible Dream (1983). Film ini menceritakan kehidupan perempuan di lingkungan urban dengan segala kerentanan yang mereka hadapi sebagai pekerja dan ibu rumah tangga. Pemutaran film The Impossible Dream menjadi momen refleksi kritis. Diskusi yang dipandu Imran mengungkap realitas ketimpangan gender yang masih kuat di masyarakat. Peserta menyoroti beban ganda perempuan—yang tidak hanya bekerja di ranah domestik, tetapi juga berkontribusi dalam aktivitas produktif seperti bertani. Ciwang dari Bontomanurung serta Isra dari Kaluppini menggambarkan bagaimana perempuan tetap harus melayani kebutuhan rumah tangga setelah bekerja di kebun. Diskusi ini memperlihatkan bahwa ketidaksetaraan gender masih menjadi tantangan lintas wilayah.
Hari kedua dimulai pukul 09.30. Ulfa Utami Mappe, S.Sos., M.Si selaku fasilitator menjelaskan konsep Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Ia menegaskan bahwa GEDSI bukan hanya konsep, tetapi pendekatan yang memastikan tidak ada yang tertinggal dalam pembangunan. Dalam konteks perubahan iklim, perempuan dan kelompok rentan menjadi pihak yang paling terdampak—mulai dari kerawanan pangan hingga keterbatasan akses terhadap sumber daya.

Ulfa Utami Mappe sedang memfasilitasi peserta pelatihan
Pembelajaran dilanjutkan melalui metode role play, di mana peserta memainkan berbagai peran sosial seperti perempuan adat, penyandang disabilitas, kepala desa, pemuda pengangguran, dan ibu rumah tangga miskin. Dalam simulasi pengelolaan lahan, terlihat bahwa kepala desa dan pemuda berpendidikan cenderung mendominasi diskusi, sementara penyandang disabilitas dan ibu rumah tangga menjadi kelompok yang paling jarang didengar. Temuan serupa muncul dalam simulasi lain, menegaskan bahwa tantangan inklusi masih terjadi dalam berbagai konteks sosial. Sebagai upaya perbaikan, peserta menyepakati pentingnya melibatkan seluruh pihak secara aktif dalam diskusi, termasuk dengan menyediakan ruang khusus bagi individu yang kurang berani menyampaikan pendapat, serta merencanakan akses yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok
Sesi selanjutnya, Empati: Membaca Kelompok Rentan dan Pengalaman Komunitas, dimulai pukul 13.30. Mulanya, Ahsan sebagai fasilitator bertanya kepada peserta mengenai alasan mereka membuat gambar yang telah mereka buat. Asti kemudian menyampaikan, “Gambar ini saya buat sebagai harapan akan tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, seperti sekolah, kantor desa yang ramah, serta akses jaringan komunikasi yang memadai.”

Ahsan, sebagai fasilitator, mengajak peserta untuk merefleksikan kondisi sosial dan ekonomi yang ada di lingkungan sekitar mereka
Dalam sesi praktik, peserta mengidentifikasi masalah nyata di lingkungan masing-masing melalui pendekatan “lihat-lihat, tanya-tanya, dan baca-baca”. Peserta kemudian memetakan persoalan di sekitarnya secara lebih terarah. Kelompok Durian menyoroti pembukaan lahan yang terus berlangsung, penebangan pohon, serta sumber air yang mengering saat kemarau. Kelompok Kopi mengangkat isu pencemaran lingkungan, ketiadaan TPA, dan lemahnya kesadaran masyarakat. Sementara itu, kelompok Alpukat membahas perubahan cuaca yang tidak menentu, keterbatasan akses lahan, serta fluktuasi harga hasil panen.
Tidak berhenti pada identifikasi masalah, peserta juga diarahkan untuk merumuskan solusi konkret, mulai dari penerapan agroforestri, pembuatan penampungan air berskala besar, penguatan regulasi desa, pengelolaan limbah pertanian, hingga pemanfaatan informasi cuaca dari BMKG. Rangkaian proses ini menunjukkan alur berpikir yang berkembang dari mengenali persoalan menuju penyusunan solusi, sehingga peserta tidak hanya memahami situasi yang dihadapi, tetapi juga mampu meresponsnya secara lebih terarah dan kontekstual.



Peserta saling berdiskusi dalam mengidentifikasi masalah di lingkungan sekitarnya, penyebab, dan solusi yang dapat dilakukan
Hari ketiga dimulai pukul 09.35 dan difokuskan pada pengelolaan bentang lahan berbasis solusi alam melalui simulasi permainan H2OURS yang dipandu oleh Alfath. Metode pembelajaran interaktif dari ICRAF (program Land4Lives) ini menggambarkan pengelolaan sumber daya alam dalam satu DAS yang terbagi atas wilayah hulu, tengah, dan hilir, dan juga telah diterapkan dalam program SCF lainnya di Bone. Permainan ini menjadi ruang mengintegrasikan program Land4Lives yang memiliki kesamaan isu dengan program Estungkara, yaitu kelompok marginal dan perubahan iklim.
Kegiatan berlangsung selama delapan ronde yang merepresentasikan delapan tahun pengelolaan bentang lahan dalam satu Daerah Aliran Sungai (DAS). Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok—hulu, tengah, dan hilir—untuk mencerminkan posisi dan peran masing-masing dalam satu kesatuan lanskap.



Suasana permainan H2OURS yang difasilitasi oleh Alfath
Pada setiap ronde, Alfath memaparkan dinamika kondisi iklim dan ekonomi yang terus berubah. Berdasarkan informasi tersebut, tiap kelompok berdiskusi untuk menentukan komoditas yang akan ditanam. Pada salah satu ronde, peserta diberi ruang untuk bernegosiasi antar kelompok dalam menentukan pilihan komoditas. Proses ini menunjukkan bahwa keputusan dalam pengelolaan sumber daya alam tidak berdiri sendiri, melainkan saling mempengaruhi dan dapat berdampak pada wilayah lain.
Melalui simulasi ini, peserta dapat melihat secara langsung hubungan sebab-akibat dari setiap keputusan. Praktik yang tidak berkelanjutan terbukti meningkatkan risiko bencana, sementara pendekatan yang lebih konservatif dan terencana memberikan manfaat yang lebih stabil dalam jangka panjang.
Pada sesi refleksi yang dipandu oleh Ahsan, peserta menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan pemahaman baru tidak hanya tentang perubahan iklim, tetapi juga tentang pentingnya kesetaraan dan inklusi. Sela menilai kegiatan ini sangat bermanfaat, sementara Iwan menyoroti suasana belajar yang aman dan partisipatif. Isra menyampaikan keinginannya untuk menerapkan nilai kesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai penutup, Zaenal menekankan pentingnya integrasi GEDSI dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, sekaligus mendorong peran aktif perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat komunitas. Selain itu, pelaksana kegiatan juga menyampaikan harapan agar pelatihan ini diikuti dengan tindak lanjut nyata di tingkat peserta, khususnya dalam memperkuat pemahaman dan praktik adaptasi serta mitigasi perubahan iklim dalam konteks pengelolaan sumber daya air, serta mendorong perempuan untuk lebih berperan dalam proses pengambilan keputusan di komunitas.

Zaenal menekankan pentingnya GEDSI dalam aksi iklim serta penguatan peran perempuan dalam pengambilan keputusan komunitas.
Kegiatan ini ditutup oleh Ahsan dengan harapan bahwa pelatihan ini menjadi awal dari kolaborasi berkelanjutan. Dari pelatihan ini menunjukkan bahwa mempertemukan pengalaman dari berbagai daerah, memperkuat perspektif GEDSI, dan memahami keterkaitan antara sosial, ekonomi, dan lingkungan merupakan langkah penting dalam membangun agen perubahan yang mampu mendorong transformasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Kegiatan ini (turut) didukung oleh Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia melalui Program Estungkara sebagai bagian dari Program INKLUSI, Kemitraan Australia- Indonesia Menuju Masyarakat Inklusif.
Penulis: Arif Maulana










