Suara lesung, tanda babak baru pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Dusun Bonto-Bonto, Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros. Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Ekowisata Hutan Pinus Tanah Balang resmi diluncurkan. Momentum ini menjadi langkah Kelompok Pengelola Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Wisata Tanah Balang untuk memperkenalkan potensi alam dan budaya kampung mereka, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Dusun Bonto-Bonto.
Peluncuran ini menjadi puncak rangkaian kegiatan Serial Pelatihan Penguatan Lembaga Sosial Ekonomi yang Inklusif: Penguatan Manajemen Pengelolaan Ekowisata Hutan Pinus dan Launching Ekowisata Hutan Pinusyang diselenggarakan Sulawesi Cipta Forum (SCF) melalui Program Estungkara pada 23–24 Oktober 2026. Kegiatan tersebut merupakan dukungan kepada masyarakat setempat, terutama anak muda perempuan dan laki-laki yang menjadi bagian dari kelompok pengelola ekowisata. Turut hadir Kepala Dusun Bonto-Bonto, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bulusaraung beserta penyuluh kehutanan, serta perwakilan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Maros.

Prosesi penumbukan lesung oleh perwakilan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Maros, Yusriadi Arif, bersama Kepala KPH Bulusaraung, Suki, S.P., M.Si., menandai resminya peluncuran Ekowisata Hutan Pinus Tanah Balang.
Bagi masyarakat Dusun Bonto-Bonto, inisiatif ini juga menjadi ruang untuk membangun kemandirian dalam mengelola potensi kampung. Melalui pengembangan ekowisata, masyarakat diharapkan semakin terlibat dalam merawat lingkungan, menjaga pengetahuan lokal, serta menentukan arah pengembangan wilayahnya sendiri.
Belajar Mengelola Ekowisata, Membangun Pengalaman bagi Wisatawan
Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat, 23 Oktober 2026 melalui pelatihan penguatan manajemen pengelolaan ekowisata. Menghadirkan Maryam dari Politeknik Pariwisata dan Anita dari Hotel Four Points by Sheraton Makassar sebagai narasumber, pelatihan ini membekali peserta dengan pengetahuan tentang pengelolaan ekowisata, pelayanan pengunjung, serta peran pemandu dalam menciptakan pengalaman wisata yang berkesan.
Maryam menjelaskan bahwa ekowisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Pengelolaannya perlu memperhatikan empat aspek utama, yakni pelestarian lingkungan, penghormatan terhadap budaya lokal, manfaat ekonomi bagi masyarakat, dan pendidikan bagi pengunjung. Melalui pendekatan tersebut, wisatawan diharapkan tidak sekadar menikmati panorama hutan pinus, tetapi juga memahami hubungan antara lingkungan, kehidupan masyarakat, dan kebudayaan setempat.

Maryam, narasumber dari Politeknik Pariwisata, menjelaskan empat aspek penting dalam pengelolaan ekowisata, yaitu pelestarian lingkungan, penghormatan terhadap budaya lokal, manfaat ekonomi bagi masyarakat, dan edukasi bagi pengunjung.
Seorang pemandu wisata juga memiliki tanggung jawab untuk menyambut pengunjung, menyampaikan informasi yang akurat, mengatur perjalanan, memastikan keselamatan, dan menjaga kelestarian lingkungan. Karena itu, pengelola perlu mengembangkan program wisata yang memberi kesempatan kepada pengunjung untuk belajar dan berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Aspek pelayanan menjadi salah satu materi yang langsung dipraktikkan peserta. Anita dari Hotel Four Points by Sheraton Makassar menekankan pentingnya cara menyambut tamu, penggunaan bahasa, dan intonasi ketika berkomunikasi. “Menyambut tamu itu sangat penting, penggunaan bahasa dan intonasi yang baik perlu diperhatikan dan dilatih. Teman-teman bisa mengembangkan SOP pelayanan dengan pelajari standar yang diterapkan oleh hotel,” ujar Anita.
Peserta kemudian bergantian melakukan simulasi menyambut dan melayani tamu. Mereka juga berlatih menceritakan keindahan alam, kondisi sosial, dan potensi budaya Dusun Bonto-Bonto. Latihan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengenalkan kampungnya kepada wisatawan.
Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran film dan dokumentasi perjalanan kelompok dalam membangun kawasan Hutan Pinus Tanah Balang menjadi tempat wisata. Dokumentasi tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali proses yang telah dilalui masyarakat dalam mewujudkan gagasan pengembangan wisata berbasis potensi lokal.
Masyarakat, Pelaku Utama Pengembangan Ekowisata
Sabtu, 24 Oktober 2026, kegiatan dilanjutkan melalui diskusi tentang pengembangan ekowisata berbasis masyarakat yang menghadirkan unsur pemerintah daerah dan pengelola kehutanan.
Yusriadi Arif dari Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Maros memaparkan potensi yang ada di Dusun Bonto-Bonto, termasuk hamparan hutan pinus dan pemandangan matahari terbenam yang dapat menjadi daya tarik wisata. Ia juga menyampaikan sejumlah peluang pengembangan fasilitas dan atraksi, seperti wisata berkuda, dan penginapan berbasis masyarakat. “Tanah Balang memiliki potensi yang sangat menarik untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata, mulai dari keindahan hutan pinus hingga panorama matahari terbenamnya. Namun, ekowisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Masyarakat harus menjadi pelaku utama, mulai dari menyiapkan paket wisata, memberikan pelayanan kepada pengunjung, hingga mengembangkan atraksi dan fasilitas pendukung seperti camping ground dan homestay. Yang tidak kalah penting, pengembangan wisata ini harus tetap menghormati adat istiadat setempat dan memberikan manfaat bagi ekonomi masyarakat,” ungkap Yusriadi.
Yusriadi juga menyampaikan komitmennya dalam mengembangkan destinasi pariwisata Hutan Pinus Tanah Balang. “Kami sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh masyarakat yang secara mandiri mengupayakan wisata di kampungnya. Tahun depan, kami dari Dinas Pariwisata juga akan mengupayakan fasilitas bantuan melalui kementerian, “ ujar Yusriadi.
Pengembangan ekowisata Hutan Pinus Tanah Balang diharapkan tidak hanya menjadi sarana rekreasi, tetapi juga ruang edukasi lingkungan dan pengembangan ekonomi masyarakat. Kesiapan warga dalam memberikan pelayanan, menyusun paket wisata, serta menjaga nilai-nilai lokal menjadi bagian penting dalam membangun destinasi yang memiliki karakter tersendiri.
Dari perspektif pengelolaan hutan, Bapak Sukri selaku Kepala UPT KPH Bulusaraung mengapresiasi semangat masyarakat dalam mengembangkan ekowisata. Ia juga menjelaskan peran KPH dalam menjaga fungsi hutan serta menyampaikan bahwa Kelompok Tani Hutan (KTH) Tanah Balang telah memperoleh izin pengelolaan seluas 108 hektare. “Kami mengapresiasi semangat masyarakat, khususnya kelompok pengelola Hutan Pinus Tanah Balang, yang mulai mengembangkan potensi kawasan ini melalui ekowisata. Masyarakat perlu memahami bahwa pengembangan wisata di kawasan hutan harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian dan fungsi hutan. Dengan izin pengelolaan seluas 108 hektare yang telah dimiliki KTH Tanah Balang, kami berharap masyarakat dapat mengambil peran secara bertanggung jawab, sehingga hutan tetap terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Keberadaan izin pengelolaan tersebut menjadi salah satu landasan bagi masyarakat untuk menjalankan pengelolaan sesuai ketentuan yang berlaku. Pada saat yang sama, pengembangan wisata perlu memastikan bahwa pemanfaatan kawasan tetap memperhatikan fungsi dan kelestarian hutan. Keterlibatan pemerintah daerah dan pengelola kehutanan dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi untuk mendukung pengembangan ekowisata yang dikelola masyarakat.
Mewujudkan Mimpi Bersama
Ahsan Setiawan, mewakili SCF, turut menceritakan proses pendampingan yang telah dilakukan selama sekitar satu tahun terakhir. Pendampingan dimulai dengan membangun visi bersama masyarakat mengenai potensi dan arah pengembangan Hutan Pinus Tanah Balang.
SCF memfasilitasi kelompok dalam merancang model ekowisata, mendukung proses teknis pengembangannya, serta menghubungkan masyarakat dengan berbagai pihak yang berpotensi mendukung inisiatif tersebut. Kehadiran pendamping dalam berbagai tahapan menjadi bagian dari upaya menjaga semangat kelompok agar terus bergerak mewujudkan rencana bersama.
“Pendampingan yang kami lakukan selama sekitar satu tahun terakhir berangkat dari mimpi bersama masyarakat untuk mengembangkan Hutan Pinus Tanah Balang menjadi ekowisata yang dikelola secara mandiri. Kami percaya masyarakat bisa mewujudkan mimpi tersebut ketika memiliki visi yang kuat, mau belajar, dan bekerja sama. Karena itu, SCF tidak hanya mendampingi perencanaan dan kebutuhan teknis pengelolaan, tetapi juga berupaya membangun kolaborasi dengan berbagai pihak agar kelompok semakin siap mengelola ekowisata ini. Antusiasme teman-teman pengelola, termasuk anak muda perempuan dan laki-laki, menjadi semangat bagi kami untuk terus mendukung proses ini,” ungkap Ahsan.
Antusiasme kelompok dalam mengikuti pelatihan dan kunjungan belajar mengenai pengelolaan wisata turut memperkuat optimisme terhadap pengembangan Ekowisata Hutan Pinus Tanah Balang. Proses ini menunjukkan pentingnya pendampingan yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas, tetapi juga pada penguatan kapasitas, kerja sama, dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap inisiatif yang dikembangkan.
Ketua KTH Tanah Balang, Fatahuddin, menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendampingi dan mendukung proses pengembangan ekowisata. Ia juga berharap kerja sama yang telah terbangun dapat terus berlanjut sehingga kelompok mampu mengembangkan dan mengelola destinasi tersebut secara berkelanjutan.

Fatahuddin, Ketua KTH Tanah Balang, menyampaikan apresiasi kepada SCF, pemerintah, dan berbagai pihak atas pendampingan dalam pengembangan Ekowisata Hutan Pinus Tanah Balang. Ia berharap kolaborasi terus berlanjut untuk memperkuat pengelolaan destinasi, menjaga kelestarian hutan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami berterima kasih kepada SCF, pemerintah, dan semua pihak yang telah mendampingi serta mendukung perjalanan kelompok kami dalam mengembangkan Hutan Pinus Tanah Balang. Peluncuran ini menjadi langkah penting bagi kami untuk mulai memperkenalkan potensi kampung kepada masyarakat luas. Tentu masih ada banyak hal yang perlu kami benahi, baik dalam pengelolaan maupun fasilitas pendukungnya. Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut agar kelompok semakin siap melayani pengunjung dan ekowisata Tanah Balang dapat berkembang dengan tetap menjaga kelestarian hutan serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Fatahuddin.
Rangkaian kegiatan kemudian ditandai dengan prosesi pemukulan lesung sebagai simbol peluncuran Ekowisata Hutan Pinus Tanah Balang. Prosesi ini menjadi penanda dimulainya babak baru bagi kelompok pengelola untuk memperkenalkan potensi kampung dan menyambut pengunjung.
Harapan Anak Muda untuk Masa Depan Tanah Balang
Di balik peluncuran destinasi ini, anak muda setempat menjadi salah satu kelompok yang memegang peran penting dalam pengelolaan ekowisata. Keterlibatan perempuan dan laki-laki dalam pelatihan serta pengelolaan kelompok membuka ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilan, mengambil peran dalam usaha bersama, dan berkontribusi terhadap ekonomi lokal.

Anak muda hingga orang tua bekerja bersama mengorganisir rangkaian kegiatan peluncuran Ekowisata Hutan Pinus Tanah Balang.
Fika, peserta pelatihan yang juga menjabat sebagai bendahara kelompok pengelola Ekowisata Hutan Pinus Tanah Balang, mengungkapkan kesan dan harapannya setelah mengikuti rangkaian kegiatan. “Menurutku kegiatan launching ekowisata Tanah Balang seru dan menjadi pengalaman yang berkesan. Walaupun masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi, menurutku acara sudah berjalan dengan baik. Semoga ke depannya Ekowisata Tanah Balang semakin berkembang, semakin dikenal banyak orang, dan semakin ramai pengunjung. Harapanku, semoga pengelolanya tetap kompak, fasilitasnya semakin baik, dan kita semua bisa terus bekerja sama untuk memajukan ekowisata Tanah Balang,” ungkap Fika.
Harapan Fika menggambarkan bahwa peluncuran destinasi bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dari pekerjaan bersama yang masih perlu dilanjutkan. Kekompakan pengelola, peningkatan kualitas pelayanan, perbaikan fasilitas, serta dukungan berbagai pihak akan menjadi bagian penting dalam perjalanan pengembangan ekowisata ini.

Fika, bendahara kelompok pengelola Ekowisata Hutan Pinus Tanah Balang, mengungkapkan kesan positif setelah mengikuti rangkaian kegiatan peluncuran. Ia berharap ekowisata semakin dikenal, fasilitas dan pelayanan terus ditingkatkan, serta kekompakan pengelola tetap terjaga untuk mengembangkan destinasi secara berkelanjutan.
Melalui Program Estungkara, SCF mendorong penguatan lembaga sosial ekonomi masyarakat adat yang inklusif, termasuk melalui pengembangan usaha berbasis potensi lokal dan kolaborasi multipihak. Pengembangan Ekowisata Hutan Pinus Tanah Balang menjadi salah satu upaya untuk membuka ruang partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda perempuan dan laki-laki, dalam mengelola sumber daya secara bertanggung jawab.
Kini, Hutan Pinus Tanah Balang memasuki babak baru. Tantangannya bukan hanya menarik lebih banyak pengunjung, tetapi juga memastikan bahwa pengembangan wisata tetap berpijak pada kelestarian hutan, penghormatan terhadap budaya lokal, serta manfaat yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat Bonto-Bonto.
Penulis: Ahsan Setiawan










