Di Desa Bonto Manurung, musim hujan datang tak menentu. Kemarau lebih panjang dari biasanya. Dampaknya, tanaman kopi di Bonto Manurung makin rentan terkena hama dan penyakit.
Khalid, selaku moderator, membuka Sekolah Lapang Agrosilvopastura Pertemuan VIII yang digelar SCF di Desa Bonto Manurung pada tanggal 30 September 2025. Tema pembelajaran kali ini: hama dan penyakit pada tanaman kopi.
Peserta diajak berkeliling kebun kopi selama kurang lebih 30 menit. “Tujuan berkeliling kebun kopi ini untuk mengamati dan mencari mana saja contoh hama dan penyakit yang ada di kebun kopi” ungkap Enal selaku fasilitator utama pada pertemuan hari ini. Para peserta menyusuri barisan pohon kopi. Mereka memperhatikan daun, batang, hingga buah yang bergelantungan, berusaha menemukan tanda-tanda keberadaan hama maupun gejala penyakit: daun yang berbintik, buah yang berlubang, batang yang tampak tidak sehat, dan serangga yang dianggap hama.

Peserta Sekolah Lapang Agrosilvopastura berkeliling kebun, mengindentifikasi hama dan penyakit pada tiap tanaman
Para peserta kembali berkumpul, memasuki sesi diskusi. Fasilitator mengintruksikan peserta membuat kolom identifikasi. Satu per satu hasil temuan peserta dituliskan: nama hama atau penyakit, gejala yang terlihat, kerusakan yang ditimbulkan, dan pengelompokan hama atau penyakit. Beberapa peserta mencoba mengingat pengalaman pribadi mereka dalam menghadapi kasus serupa di kebun masing-masing. “Anuji, nango biasa na kencingi daunnya jadi rusaki” ungkap Daeng Baharuddin. Selain nango atau walang sangit, peserta juga menemukan kutu daun, wereng (ulat), daun terbakar dan daun berlubang yang disebabkan oleh serangga pengganggu.

Peserta Sekolah Lapang Agrosilvopastura menulis hasil pengamatannya di kertas plano yang telah disediakan
Enal kemudian mencocokkan hasil diskusi kolom identifikasi, memberikan klarifikasi atas hasil identifikasi yang dilakukan oleh peserta. Ia menjelaskan ciri-ciri dari setiap jenis hama dan penyakit yang ditemukan. Enal juga menjabarkan gejala dan dampak terhadap pertumbuhan dan produksi kopi, serta cara penanganannya baik secara alami maupun teknis.
“Hama, adalah organisme seperti serangga, kutu, atau larva yang menyerang bagian tanaman. Sementara penyakit disebabkan oleh jamur, bakteri, atau virus yang menginfeksi jaringan tanaman,” ungkap Enal, menjelaskan perbedaan antara hama dan penyakit. Penting untuk memahami perbedaan antara hama dan penyakit, karena perlakuan yang tepat sangat bergantung pada identifikasi yang benar.

Enal menjelaskan perbedaan antara hama dan penyakit
Enal kemudian mencontohkan cara penanganan beberapa masalah utama:
- Karat daun kopi dapat dikurangi dengan pemangkasan teratur,
- Bercak daun dikendalikan dengan menjaga kebersihan kebun serta kelembaban.
- Hama penggerek buah ditanggulangi dengan perangkap, sanitasi kebun, dan pemetikan selektif.
Selain itu, Enal menekankan pentingnya keberadaan tanaman pendamping yang bisa berfungsi sebagai pelindung dari serangan hama serta pemberi nutrisi. “Bisaki juga tanam lamtoro (petai cina), kemangi, dan sereh (serai). Karena selain bisa dibuat sebagai pestisida alami, juga bisa mengundang serangga-serangga baik atau musuh alaminya hama” ujar Enal.
Memasuki sesi terakhir, peserta diberikan penjelasan mengenai penggunaan pestisida yang baik dan benar. Dengan tegas ia mengingatkan tentang bahaya penggunaan yang tidak tepat. “Dosis harus sesuai anjuran, tidak boleh berlebihan,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya waktu aplikasi, yakni pada fase serangan awal, agar pestisida bekerja lebih efektif. Peserta diingatkan untuk selalu mengutamakan keselamatan kerja dengan menggunakan alat pelindung diri (APD): topi, masker, kacamata, baju panjang, sarung tangan, dan sepatu. Penting juga melakukan penyemprotan dengan posisi membelakangi arah angin.

Peserta fokus dan antusias selama proses kelas berlangsung
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi. Fasilitator menegaskan kembali poin-poin penting yang telah dipelajari hari itu. Bukan hanya fasilitator, salah satu peserta, Pak Yandi, turut membagi pengalamannya.“Saya kemarin mencoba di kebun menggunakan ramuan pestisida alami dari bahan dapur seperti lengkuas, cabai merah, daun gamal, dan daun pepaya dalam waktu 2-3 hari saya semprotkan setiap pagi itu bisa membasmi hama dan penyakit pada tanaman kacang yang saya tanam” ungkap Pak Yandi yang telah mencoba di kebunnya.
Lewat kegiatan ini, petani kopi di Bonto Manurung memperdalam pemahaman tentang berbagai jenis hama dan penyakit yang kian sering muncul akibat musim yang tak tentu, serta cara penanganan yang tepat agar tanaman tetap sehat. Lebih dari itu, kegiatan ini juga memperkuat komitmen mereka untuk menjaga keberlanjutan kebun dan ruang hidupnya di tengah tantangan iklim.
Penulis: Muh. Dava Aditya Permana
Mahasiswa Magang SCF-Prodi Sosiologi FISH UNM










