Sawah Bisa Jadi Laut: Ketika Mangrove Menjaga Nafas Warga Pesisir

Menanam Mangrove, Melindungi Sawah

“Dulu, air pasang sampai masuk ke sawah sehingga sawah kami asin dan gagal panen. Itu seperti mimpi buruk,” kenang Syamsuddin (46), warga Matabubu Jaya, dengan raut wajah serius. Ancaman abrasi dan intrusi air laut bukan lagi sekedar teori, melainkan kenyataan pahit yang menghantui kehidupan mereka setiap hari. Desa Matabubu Jaya yang terletak di pesisir Konawe Selatan selama bertahun-tahun menghadapi tantangan lingkungan yang serius. Gelombang laut yang semakin ganas menggerus garis pantai, mengancam rumah dan lahan pertanian warga.

Perjalanan menuju izin kelola dimulai pada 2018, ketika masyarakat bersama pemuda desa mengajukan permohonan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Usulan ini didukung pemerintah desa dan tokoh masyarakat, serta difasilitasi Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Gularaya. Setelah verifikasi, pada Maret 2021 terbit Surat Keputusan Hutan Desa Kondapute Bose-bose. Sejak itu, pengelolaan dilakukan lebih terarah, termasuk rencana pembukaan tambak ramah lingkungan sesuai Rencana Kelola Perhutanan Sosial (RKPS).

Garis pantai Matabubu Jaya yang rentan abrasi. Kawasan ini dulu sering diterjang air pasang hingga mengancam sawah dan permukiman warga (Foto: Fitri Hendriani)

Menurut Syamsuddin, Sekretaris Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), gagasan ini lahir dari obrolan santai di antara pemuda desa. “Kami melihat potensi besar di kawasan ini, dan berpikir kenapa tidak kita kelola sendiri? Sebagian lahannya juga merupakan lahan pertanian dan perkebunan,” ujarnya. Dukungan warga desa memperkuat langkah itu hingga izin resmi didapatkan.

Bagi masyarakat Matabubu Jaya, mangrove adalah pelindung utama. Saat air pasang, akar mangrove menahan gelombang agar tidak merendam sawah. “Kalau mangrove hilang, sawah-sawah bisa jadi lautan. Bisa habis semua,” tegas Syamsuddin. Kesadaran ini membuat masyarakat memahami bahwa menjaga mangrove berarti menjaga ketahanan pangan mereka.

Pelindung Sekaligus Alternatif Sumber Penghidupan Baru

Selain fungsi perlindungan, mangrove juga menyimpan potensi ekonomi. Kawasan ini menjadi habitat kepiting bakau, kerang, ikan, dan udang yang bernilai jual. Buah mangrove pun berpotensi dimanfaatkan, meski pemasarannya membutuhkan sertifikasi benih agar legal dan berkelanjutan. “Tanpa mangrove, kepiting dan kerang tidak akan berkembang biak di sini. Itu sebabnya kami anggap mangrove sebagai sumber hidup,” tambah Syamsuddin.

Hamparan sawah warga yang kini kembali produktif setelah kawasan mangrove dipulihkan. Dahulu, air laut kerap masuk hingga menyebabkan sawah menjadi asin dan gagal panen (Foto: Fitri Hendriani)

Ke depan, LPHD bersama warga berharap ada dukungan untuk pengembangan usaha produktif, termasuk sertifikasi benih mangrove dan ekowisata berbasis konservasi. Potensi wisata edukatif di kawasan ini diyakini mampu menambah pendapatan desa sekaligus memperkuat kesadaran menjaga lingkungan.

Cerita Matabubu Jaya adalah potret ketahanan dan transformasi. Mereka membuktikan bahwa merawat mangrove bukan sekadar soal menanam pohon, melainkan tentang memulihkan siklus kehidupan dari yang terancam menjadi kembali berdaya. “Kami belajar bahwa ketika kami merawat alam, alam akan merawat kami,” refleksi Syamsuddin. Mangrove telah menjadi penjaga hidup, penjaga napas warga pesisir.


Penulis:  Waode Mar’atun Sholiha

Author
SCF

Sulawesi Community Foundation

Leave a Reply

Skip to content