Pengembangan usaha agroforestri tidak hanya bergantung pada hasil produksi. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan mengelola usaha, memperkuat kelembagaan, memahami pasar, dan menyusun model bisnis yang berkelanjutan. Menjawab kebutuhan tersebut, Konsorsium Sulawesi Cipta Forum (SCF) dan Yayasan Lembaga Pengkajian Masyarakat Indonesia (YLPMI) menggelar Training of Trainers (ToT) Penguatan Kelembagaan Usaha Berbasis Agroforestri di Hotel Grand Nur Watampone.
Pelatihan berlangsung pada 8–9 Juni 2026 dan diikuti oleh 24 local champion, terdiri atas 18 perempuan dan 6 laki-laki. Mereka berasal dari 12 desa yang mewakili tiga lanskap di Kabupaten Bone, yaitu kawasan hulu, tengah, dan hilir. Melalui pelatihan ini, para local champion dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi penggerak pengembangan usaha agroforestri di desa masing-masing.
Selama dua hari, peserta mempelajari konsep dasar agroforestri dan mengidentifikasi potensi wilayah. Mereka juga mendapatkan materi tentang penguatan kelembagaan usaha, penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), legalitas usaha melalui sistem Online Single Submission (OSS) untuk memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB), akses pasar, serta penyusunan model bisnis menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC).
Pada sesi identifikasi potensi yang difasilitasi oleh Zulfadly Manda, peserta memetakan sumber daya yang dimiliki desa masing-masing. Pemetaan dilakukan berdasarkan aspek biologis, geografis, sosial, pasar, dan kebijakan. Dari proses tersebut, peserta mengidentifikasi berbagai komoditas yang berpotensi dikembangkan melalui pendekatan agroforestri, seperti kopi, kakao, durian, cengkeh, jahe, kemiri, aren, porang, hingga ternak.
Sementara itu, pada sesi legalitas usaha yang difasilitasi oleh Zulfikri, peserta mempraktikkan secara langsung proses pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui sistem OSS. Selain memahami pentingnya legalitas usaha, mereka juga berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang sering dihadapi pelaku usaha dalam mengurus perizinan.
Hari kedua difokuskan pada penyusunan rencana usaha. Peserta mempelajari analisis SWOT dan Business Model Canvas(BMC). Mereka bekerja dalam kelompok untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan dari produk agroforestri yang akan dikembangkan. Hasil analisis tersebut kemudian digunakan untuk menyusun model bisnis yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Setiap kelompok memilih satu komoditas unggulan, seperti gula semut, pala, kemiri, maupun produk agroforestri lainnya. Komoditas tersebut dianalisis menggunakan pendekatan SWOT dan BMC. Hasilnya kemudian dipresentasikan melalui metode World Café. Dalam sesi ini, peserta saling mengunjungi kelompok lain, bertukar pengalaman, serta memberikan masukan terhadap strategi pengembangan usaha yang telah disusun. Kelompok dari wilayah hulu, tengah, dan hilir juga berbagi perspektif mengenai potensi dan tantangan usaha di lanskap masing-masing.

Diskusi kelompok peserta ToT Kelembagaan Usaha
Selain memperkuat aspek bisnis, pelatihan juga membekali peserta dengan teknik fasilitasi komunitas. Materi ini dirancang agar para local champion mampu memandu proses belajar, diskusi, dan penyusunan rencana usaha bersama masyarakat di tingkat desa.
Pelatihan ini memberikan pengalaman baru bagi para peserta. “Saya baru mendapatkan materi seperti ini. Sebagai pengurus koperasi, materi ini sangat bermanfaat. Selama ini kami menjalankan usaha hanya berdasarkan pengalaman dan insting. Sekarang kami jadi tahu bagaimana menyusun usaha secara lebih terarah,” ujar Munawwarah dari Desa Awang Cenrana.
Hal serupa disampaikan oleh Nur Cahaya Lestari dari Desa Bonto Jai. “Kami baru tahu bahwa dalam membangun usaha, kami harus memahami siapa pelanggan, siapa mitra utama, dan bagaimana menyusun Business Model Canvas. Dengan begitu, kami bisa merencanakan bisnis dengan lebih baik dan meminimalkan risiko kerugian.”
Dalam sesi diskusi, peserta juga mengangkat kebutuhan terhadap akses pembiayaan untuk mendukung pengembangan usaha. Menanggapi hal tersebut, tim pelaksana memperkenalkan Village Savings and Loan Association (VSLA) sebagai salah satu alternatif pendanaan. Skema ini akan diperkuat melalui rangkaian kegiatan program berikutnya.
Sebagai tindak lanjut, setiap peserta menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) sesuai dengan kondisi dan kebutuhan desa masing-masing. Dokumen ini akan menjadi panduan bagi para local champion dalam mendorong pengembangan kelembagaan usaha agroforestri di wilayahnya.
Melalui pelatihan ini, SCF bersama YLPMI berupaya memperkuat kapasitas masyarakat, khususnya perempuan dan kelompok marginal, agar mampu membangun usaha berbasis agroforestri yang lebih kuat, legal, dan berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat kemampuan mereka dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Climate-Based Livelihood Enhancement and Food Security for Marginalized Communities and Women’s Groups in Bone District yang berada di bawah Program Land4Lives, hasil kerja sama Pemerintah Kabupaten Bone, ICRAF–World Agroforestry, dan Global Affairs Canada (GAC).










